Jumat, 07 Juni 2019

Sinopsis Tari Kembang Goyang


Sinopsis :

 Sesuai dengan namanya menggunakan “ Kembang Goyang “, maka tarian ini adalah tarian yang salah satu propertinya adalah menggunakan kembang goyang tentunya. Kembang goyang ini merupakan perhiasan yang dipasangkan pada rambut atau sanggul ( konde ) dan dapt bergerak –  gerak apabila digoyangkan atau digerakkan karena apda bagian tengah atau bawahya kembang goyang ini memiliki pegas.
Hiasan kembang goyang ini sendiri dibuat dari logam atau kuningan dan juga terkadang dibuat hiasan berupa batu permata sehingga tidak salah jika kembang goyang ini sangat popuer digunakan pada saat acara tradisional di negara kita. Kembang goyang ini, lazim dikenakan untuk aksesoris pengantin, penari. Karena pada saat menari kembang tersebut ikutan bergoyang, oleh karena itulah tercetuslah nama tari Kembang Goyang tersebut.
Penari yang melakoni tari Kembang Goyang ini adalah kaum wanita. Sesuai dengan namanya “ kembang goyang “, maka setiap penarinya pastinya akan disematkan kembang goyang tersebut pada rambut atau sanggul yang mereka gunakan pada saat membawakn tarian tersebut.
Sedangkan untuk kostumnya sendiri, pada bagian atasan penari bisa saja menggunakan kebaya namunn cenderung mereka menggunakan kemben pada saat acara berlangsung atau bisa juga menggunakan kida –  kida. Sedangkan untuk bagian bawah, mereka akan menggunakan kain yang senada warnanya dengan kida –  kida yang tadi.
Selendang lembut sutra juga tidak kalah penting dari seorang wanita yang membawakan tarian Kembang Goyang tersebut. Sedangkan untuk bagian tangan dan lengannya mereka menggunakan gelang kilat bahu dan juga dengan gelang kaki yang senada dengan kita bahu yan tadi digunakan. Dengan menggunakan semua kostum tersebut, maka terlihatlah seorang penari Kembang Goyang yang anggun tersebut.
 Pada setiap ada acara perkawinan secara tradisional, maka tidak pernah lupa menggelar tari Kembang Goyang tersebut, karena memng peruntukannya untuk hal seperti itu. Selain itu, tari Kembang Goyang ini juga kerap dibawakan pada saat ada acara atau event tertenutu yang melibatkan orang –  orang penting atau tamu penting yang hendak berkunjung ke daerah tersebut. Oleh karena itulah tari kembang goyang yang satu ini sangat akrab dengan masyarakat.

Sinopsis Tari Bujang Ganong


Sinopsis
 Bujang Ganong atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang energik, lincah, bersemangat dalam Seni Reyog Ponorogo. Sosok yang kocak atau lucu dan juga  berkempuan  hebat dalam hal seni bela diri. Bujang Ganong ini menggambarkan sosok seorang patih muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
Dari salah satu versi cerita, Bujangganong adalah adik seperguruan dari Klonosewandono yang kemudian mereka berdua bertemu kembali dan bersatu, mendirikan kerajaan Bantarangin. Klonosewandono sebagai raja dan Bujangganong sebagai Patihnya. Dalam dramaturgi seni pertunjukkan reyog, Bujangganong lah yang dipercaya sebagai utusan dan duta Prabu Klonosewandono untuk melamar Dewi Songgolangit ke Kediri.
Secara fisik Bujang Ganong digambarkan bertubuh kecil, pendek dan berwajah buruk, berhidung besar, mata bulat besar melotot, bergigi tonggos dan berambut panjang gimbal . Bujang Ganong dalam seni reyog obyog masa lalu tak banyak memainkan peran. Bujangganong hanya menjadi pelengkap dan sebagai sosok jenaka penghibur penonton, untuk mencairkan suasana. Bertingkah kocak sekehendak hati diikuti gamelan, menggoda barongan reyog, menggoda jathil dan juga berinteraksi menggoda penonton. Belum banyak tarian dan akrobatik-akrobatik Bujang Ganong yang ditampilkan waktu itu.
Baru kemudian mulai tahun 1980-an tarian Bujang Ganong dikembangkan dan ditambahkan akrobatik-akrobatik, hingga sampai ke panggung festival dan akhirnya kita mengenal tari Bujangganong seperti sekarang ini. Tokoh-tokoh penari Bujangganong waktu itu yang terkenal seperti : Pak Lekik, Pak Slamet dan Wisnu HP dari generasi mudanya.
Bujang Ganong, meskipun secara fisik cenderung buruk rupa, tapi mempunyai kualitas yang tinggi. Sakti dan mumpuni, loyalitas tanpa batas namun lembut dan jenaka, terampil, serba bisa dan cerdas. Seorang abdi dan perwira tinggi sekaligus pamong yang penuh dedikasi, rendah hati, jujur, tulus tanpa pamrih.
Dari versi cerita yang lain, Bujang Ganong dipercaya adalah karakter yang mewakili Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam­–salah satu tokoh sakti sekaligus cendikia Majapahit–yang menggunakan seni pertunjukkan reyog sebagai media kritik terhadap raja Majapahit waktu itu, Brawijaya V Bre Kertabumi. Gaya pemerintahan Bre Kertabumi yang seolah didikte oleh permaisurinya, digambarkan dengan seekor burung merak yang bertengger di kepala harimau. Ki Ageng Kutu dalam kritiknya–melalui seni pertunjukkan reyog–membangun karakter Bujangganong dengan segala sifat-sifat keperwiraan yang mengabdi demi tanah air. Melalui seni pertunjukkan Reyog dan tokoh Bujangganong dengan segala kualitas yang dimilikinya, Ki Ageng Kutu mencoba menyampaikan kebenaran dengan kesederhanaannya sekaligus teladan dengan gerak dan rasa yang konkrit.
Hingga kemudian, Bujang Ganong bukan hanya sekedar sebuah tontonan yang atraktif tapi keteladanannya mengandung tuntunan yang luhur, bahwa kualitas seseorang tidak bisa di ukur dari penampilan fisik semata. Kualitas karakter ini yang membuat Bujangganong memegang peranan penting dan menjadi tokoh sentral dalam dramaturgi seni pertunjukkan Reyog Ponorogo.
Bujang Ganong dengan segala peran dan kualitasnya menawarkan sebuah alternatif perenungan spiritual yang lembut namun dalam. Keteladanan yang pantas diapresiasi, dilestarikan dan di jiwai. Sebuah kearifan budaya lokal yang mencoba bertutur tentang filosofi dan makna kesejatian hidup. Bujang Ganong telah tampil ke depan melompat jauh ke masa depan melebihi jamannya. Ditengah hiruk pikuk cerita fiksi tokoh dan karakter kepahlawanan asing, Bujangganong mencoba menerobos ke pusat jantung modernitas yang cenderung absurd.
Dalam penampilannya bujang ganong bisa dibilang khas karna pada umumnya berpakain merah dan pelipit kuning dan juga mengenakan topeng ganong yang biasa berwajah garang dan memiliki rambut panjang layaknya barongan.